MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN CTL(Contextual Teaching Learning)
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Ketika
kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang
membicarakan permasalahan yang kompleks dan
sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, guru, menejemen pendidikan,
kurikulum fasilitas proses belajar mengajar dan lain sebagainya.salah satu
masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya
kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru disekolah.
Dalam
proses didalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal,otak
anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa di tuntut
untuk memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkannya dengan
kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari
sekolah mereka pintar secara teoritis akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam
sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, brilmu, kreatif.
Sesuai
pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu
mewujudkan melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang mampu bermutu dan
berkualitas. Salah satu cara yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses
pembelajaran adalah dengan menerapkan model-model pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apapengertian
pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning) ?
2.
Apakomponenpembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning) ?
3.
Apa
Tujuan pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning) ?
4.
Bagaimana
Strategi Pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning)?
5.
Bagaimana
ciri – ciri pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning)?
6.
Bagaimana
Prinsip dasar Pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)?
7.
Bagaimana
RencanaPembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning) ?
8.
Apasajakelebihan dan kekurangan Pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning) ?
C. TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Mengetahui
pengertian CTL(Contextual Teaching Learning).
2.
Mengetahui
komponen pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning).
3.
Mengetahui
Tujuan pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning).
4.
Mengetahui
Strategi Pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning).
5.
Mengetahui
Ciri – ciri Pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning).
6.
Mengetahui
Prinsipdasar CTL(Contextual Teaching Learning).
7.
Mengetahui
Rencanapembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning).
8.
Mengetahui
kelebihan dan kekurangan pemmbelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Kata
kontektual berasal dari kata conteks yang berarti “ hubungan “atau
pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya
dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya
dalam kehidupan mereka.[1] Secara umum contextual mengandung arti
yang berkenan ,relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti kontek,
yang membawa maksud, makna dan kepentingan.
Dari
konsep diatas ada tiga hal yang harus kita pahami dalam pembelajaran CTL
diantaranya yaitu :
1. CTL(Contextual
Teaching Learning)menekankan kepada proses
keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses
pembelajaran dalam kontek CTL tidak mengharap agar siswa hanya
menerima pelajaran tetapi siswa mencari, menemukan sendiri materi pelajaran.
2. CTL(Contextual Teaching Learning) mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara
materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya siswa dituntut
untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan
kehidupan nyata.
3.CTL(Contextual Teaching Learning) mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan,
artinya bukan hanya mengharap siswa memahami materi akan tetapi bagaimana
materi dapat mewarnai kehidupan sehari-hari sebagai bekal kehidupan nyata.[2]
Pembelajaran
kontektual tidak harus dilakukan didalam ruang kelas, tetapi bisa dilakukan di
laboratorium,tempat kerja ,sawah atau tempat-tempat lainnya.Mengharuskan guru
untuk pintar-pintar memilih serta mendesain lingkungan belajar yang betul-betul
berhubungan dengan kehidupan nyata, baik kontek pribadi,sosial, budaya,
ekonomi,kesehatan serta lainnya, sehingga siswa memiliki pengetahuan atau
ketrampilan untuk mengkontroksi sendiri secara aktif.
B. Komponen pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Pembelajaran
CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya denagan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapkan kehidupan
sehari-hari,dengan melibatkan tujuh komponen utama dalam pembelajaran CTL yaitu[3]:
1. Kontruktivisme
Contextual Teaching Learningdibangun dalam landasan kontruktivisme yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan dibangun peserta didik secara sedikit demi sedikit dan hasilnya
akan diperluas melalui kontek terbatas. Peserta didik harus mengkontruksi
pengetahuan baru secra bermakna melalui pengalaman nyata, mulai proses penemuan
dan mentransformasi informasi kedalam situasi lain secara kontektual oleh
karena itu proses pembelajaran merupakan proses mengkontruksi gagasan dengan
setrateginya sendiri bukan sekedar menerima pengetahuan.
2.
Menemukan
Setrategi
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered) dimana peserta
didik berusaha mengamati, memahami, menganalisa sebuah fenomena mngajukan
dugaan sementara, dan sampai pada merumuskan konsep sendiri sebagai simpulan,
baik secara individu maupun kelompok.
3. Bertanya
Proses
pembelajaran yang dilakukan peserta didik yang diawali dengan proses bertanya
apa yang dilakukan peserta didik dalam kehidupan nyata yang bertuan untuk
memecahkan masalah dalam kehidupannya, dan proses bertanya dilakukan denagan
tujuan yaitu:
a.
Membangun
perhatian
b.
Membangun
minat
c.
Membangun
sikap dan keingin tahuan.
d.
Membangun
interaksi antar siswa yang satu dengan lainnya.
e.
Membangun
interaksi antara siswa dengan guru.
4.
Masyarakat
belajar
Dalam
komponen ini sebagai upaya penciptaan lingkungan yang kondusif, peserta didik
bisa saling tukar pengalaman dengan orang lain,bekerja sama sehingga dapat
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya.
5.
Pemodelan
Dalam
komponen ini menjelaskan perlunya berbagai model dalam pembelajaran sehingga
bisa ditiru atau dipraktekan oleh peserta didik. Model ini disamping untuk
menghilangkan kejenuhan peserta didik dalam belajar juga sebagai upaya
memudahkan dan percepatan belajar sehingga cepat menemukan sebagai contoh.
Seperti pembelajaran mawaris, jual beli (akad jual beli)
6.
Refleksi
Komponen
ini sebagai proses pengumpulan data yang memberikan gambaran perkembangan
belajar peserta didik. Penilaian yang benar adalah menilai apa yang seharusnya
dinilai.Kemajuan belajar dinilai dari proses disamping penilaian hasil, artinya
bahwa pada saat proses pembelajararan berlangsung pada saat itu pula penilaian
diberikan.[5]
7.
Penilaian
nyata
Dalam
CTL keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan
kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek dilihat dari
kemampuan anak setelah melaksanakan Praktek pembelajaran.
C. Tujuan pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Pembelajaran
kontektual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang lebih bermakna,
secara fleksibel dapat diterapkan dari suatu permasalahan kepermasalahan lain
dan dari satu kontek ke kontek lainnya. Transper dapat jugaterjadi didalam
suatu kontek melalui pemberian tugas yang terkait erat dengan materi
pelajaran.hasil pembelajaran kontektual diharapkan dapat lebih bermakna bagi
siswa untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis dan melaksanakan pengamatan
serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang.[6]Selain itu ada beberapa tujuan diantaranya
yaitu :
1.
Model
CTL bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami materi pelajaran yang
dipelajari dengan mengaitkamateri dengan kontrk kehidupan sehari-hari.
2.
Agar
siswa dalam belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu adanya
pemahaman.
3.
Menekankan
pada pengembangan minat pengalaman siswa.
4.
Melatih
siswa agar dapat berfikir dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat
menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
5.
Agar
pembelajaran lebih produktif dan bermakna.
6.
Agar
sisawa secara individu dapat menemukan dan mentransfer informasi dan
dapat menjadikan informasi miliknya sendiri.
Dengan
adanya tujuan pembelajaran CTL ini siwa lebih berperan sebagai subyek (siwa lebih ditekankan untuk menggali sebuah
materi,menemukan inspirasi baru berkaitan materi pembelajaran.Dan siswa tidak
sekedar menjadi obyek didalam pembelajaran atau sebagai penerima materi yang
disampaikan guru,tetapi siwa dilatih untuk memahami sebuah pembelajar yang nantinya
bisa diterapkan di lingkungan sekitarnya.
D. Strategi pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Beberapa
strategi pembelajaran CTL yang
perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:
1.
Pembelajaran
berbasis masalah
Dengan
memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis
untuk memecahkan.
2.
Menggunakan
konteks yang beragam
Dalam
CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa
menjadi berkualitas.
3.
Mempertimbangkan
kebhinekaan siswa
Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan
individual dan sosial seyogyanya dibermaknakan menjadi mesin penggerak
untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan
interpersonal
4.
Memberdayakan
siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan
formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai carabelajar
untuk belajar mandiri di kemudian hari.
5.
Belajar
melalui kolaborasi
Dalam
setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya
dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
6.
Menggunakan
penilaian autentik
Penilaian
autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan kontekstual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju
terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
7.
Mengejar
standar tinggi
Setiap sekolah seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan
dari waktu ke waktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan
Benchmarking dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah di dalam
dan luar negeri.[7]
Berdasarkan Center for
Occupational Research and Development (CORD) Penerapanstrategipembelajarankontekstualdigambarkansebagaiberikut:[8]
a.
Mengaitkan.
Guru
menggunakan strategi ini ketika ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang
sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui
siswa dengan informasi baru. Kurikulum yang berupaya untuk menempatkan
pembelajaran dalam konteks pengalaman hidup harus bisa membuat siswa
memperhatian kejadian sehari-hari yang mereka lihat, peristiwa yang terjadi di
sekitar, atau kondisi-kondisi tertentu, lalu mengubungan informasi yang telah
mereka peroleh dengan pelajaran kemudian berusaha untuk menemukan pemecahan
masalah terhadap permasalahan tersebut.
b.
Mengalami.
Belajar
dalam konteks eksplorasi, mengalami. Mengalami merupakan inti belajar
kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan
pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat
ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan-bahan dan untuk melakukan
bentuk-bentuk penelitian aktif.
c.
Menerapkan.
Menerapkan
konsep-konsep dan informasi dalam konteks yang bermanfaat bagi diri siswa.
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah.
Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan
relevan.
d.
Kerjasama.
Belajar
dalam konteks berbagi, merespons, dan berkomunikasi dengan siswa lain adalah
strategi pengajaran utama dalam pengajaran kontekstual. Siswa yang bekerja
secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya,
siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek
dengan sedikit bantuan. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa
mempelajari materi, juga konsisten dengan dunia nyata. Seorang karyawan yang
dapat berkomunikasi secara efektif, yang dapat berbagi informasi dengan baik,
dan yang dapat bekerja dengan nyaman dalam sebuah tim tentunya sangat dihargai
di tempat kerja. Oleh karena itu, sanat penting untuk mendorong siswa
mengembangkan keterampilan bekerja sama ini
D. Ciri – ciri Pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Ciri-ciri
pembelajaran CTL adalah menekankan pada pemahaman konsep pemecahan masalah,
siswa mengalami pembelajaran secara bermakna dan memahami IPA dengan penalaran,
dan siswa secara aktif membangun pengetahuan dalam pengalaman dan pengetahuan
awal dan banyak ditekankan pada penyelesaian masalah yang rutin.
Ciri-ciripembelajaran CTL
antara lain:[9]
1. Adanyakerjasamaantarsemuapihak.
2. Menekankanpentingnyapemecahanmasalahatau
problem.
3. Bermuarapadakeragamankontekskehidupanmurid
yang berbeda-beda.
4. Salingmenunjang.
5. Menyenangkantidakmembosankan.
6. Belajardenganbergairah.
7. Pembelajarnterintegrasi.
8. Menggunakanberbagaisumber.
9. Muridaktif.
10. Sharing denganteman.
11. Muridkritis, guru kreatif.
12. Dindingkelasdanlorong-lorongpenuhdenganhasilkaryamurid peta-peta, gambar, artikel, humor, dansebagainya.
13. Laporankepada
orang tuabukanhanyarapor, tetapihasilkaryamurid, laporanhasil pratikum, karanganmurid, dansebagainya.
E. PrinsipDasarPembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa prinsip dasar.
Adapun prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran kontekstual adalah
sebagai berikut:[10]
1.
Saling
ketergantungan.
Prinsip ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini
merupakan suatu sistem. Lingkungan belajar merupakan sistem yang
mengitegrasikan berbagai komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling
mempengaruhi secara fungsional.
2.
Diferensiasi
Yakni merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari
realitas kehidupan di sekitar siswa. Keanekaragaman mendorong berpikir kritis
siswa untuk menemukan hubungan di antara entitas-entitas yang beraneka ragam
itu. Siswa dapat memahami makna bahwa perbedaan itu rahmat
3.
Pengaturan
diri
prinsip ini mendorong pentingnya siswa mengeluarkan
seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan materi akademik
dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang
mengandung prinsip pengaturan diri.
Adapun
menurut Sumiati dan Asra menjelaskan secara rinci prinsip pembelajaran
kontekstual sebagai berikut: [11]
1. Menekankan pada pemecaham masalah.
2. Mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks
seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
3. Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya
sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali.
4. Menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa.
5. Mendorong siswa belajar satu dengan lainnya dan belajar
bersama-sama.
6. Menggunakan penilaian otentik.
F.
Menyusun
Rencana Pembelajaran CTL(Contextual Teaching Learning)
Dalam
pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan
kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa
yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan
dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk
mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran,
dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru
benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama
siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program
pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi,
yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional
lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan
operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan
pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
1.
Nyatakan
kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang
merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok
dan Pencapaian Hasil Belajar.
2.
Nyatakan
tujuan umum pembelajarannya.
3.
Rincilah
media untuk mendukung kegiatan itu
4.
Buatlah
skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5.
Nyatakan
authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati
partisipasinya dalam pembelajaran.
H. Kelebihan
dan Kekurangan Pembelajaran CTL(Contextual
Teaching Learning)
1.
Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untukdapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan
kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan
materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu
akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2.
Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa
dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui mengalami ”bukan” menghafal ”
SedangkanKelemahandaripembelajaranCTL(Contextual Teaching Learning)Adalah:
1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa tidak mengalami sendiri.
2. Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya
karakteristik siswa karena harus menyesuaikan denga kelompoknya.
3. Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh
bekerjasama dengan yang lainnya, karena siswa yang tekun
merasa harus bekerja sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kata
kontektual berasal dari kata conteks yang berarti “ hubungan “atau
pendekatan pembelajaranyang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya
dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya
dalam kehidupan mereka
Pembelajaran
CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya denagan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapkan kehidupan
sehari-hari,dengan melibatkan tujuh komponen utama dalam pembelajaran CTLyaitu Kontruktivisme,
inquiri,bertanya,modeling,dll.Pembelajaran kontektual bertujuan membekali siswa
dengan pengetahuan yang lebih bermakna, secara fleksibel dapat diterapkan dari
suatu permasalahan kepermasalahan lain dan dari satu kontek ke kontek lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas, (2007), Panduan
Pembelajaran Kontektual Sekolah Menengah Pertama, Jakarta:Depdiknas
Sumiati,
Asra,(2008) Metode Pembelajaran, Bandung: CV, Wacana Prima
Trianto, (2007). Model-model
Pembelajaran Inovatif Berorentasi Kontruktivistik, Jakarta:
Perpustakaan nasional .
LAMPIRAN
HASIL DISKUSI
1.
Penanya :
Darmadi Ismail (1531043)
Pertanyaan :
Apa perbedaan belajar bermakna dan belajar tak bermakna ?
Jawab :
Belajar bermakna mengutamakan pada pengetahuan yang telah
dimiliki siswa kemudian pengetahuan itu dikaitkan dengan pengetahuan berikutnya
sehingga ada keterurutan setiap pengetahuan sedangkan belajar tidak bermakna
bisa dibilang dengan menghafal artinya siswa hanya membaca tanpa memahami
pengetahuan yang telah diberikan oleh guru.
2.
Penanya:
Nurul Choiriyah
Pertanyaan: Berikancontohdarimuridkritis,
guru kreatif !
Jawab:
Pada saat pembelajaran, seringkali guru memodelkan bagaimana
agar siswa belajar. Guru menunjukkan bangun datar dan konsep-konsep yang
dimiliki oleh bangun datar. Dalam model pembelajaran CTL ini guru bukan
satu-satunya model. Model yang digunakan dapat dirancang dengan melibatkan
siswa. Contohnya memberikan waktu untuk siswa dapat menemukan suatu pengetahuan
dari bangun datar itu sehingga dapat menentukan pengertian dari keliling dan
luas dari bangun datar itu sendiri. Apabila siswa kritis maka siswa dapat
menemukan pengetahuan baru dari konsep-konsep bangun datar dan pengertian dari
luas ataupun keliling sehingga membentuk pengetahuan baru yang berupa rumus.
Komentar
Posting Komentar